Tuesday, September 11, 2012

7 Fakta Mengenai Tragedi 11 September

Meski 11 tahun telah berlalu, namun tragedi 11 September 2001 masih terus membekas dalam kehidupan sebagian besar warga Amerika Serikat (AS), terutama keluarga korban. Peringatan yang digelar setiap tahunnya terkadang kembali membuka kisah lama dan mengungkap kepiluan keluarga korban.

Di samping peringatan dan keharuan keluarga korban, terdapat hal-hal yang belum diketahui banyak orang terkait insiden tragis ini. Berikut 7 fakta yang perlu Anda ketahui soal tragedi 11 September, seperti dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Selasa (11/9/2012):


Hanya 20 Orang Selamat dari Tragedi 9/11

Menurut hasil penelitian terhadap para korban selamat tragedi 9/11, hanya ada 20 orang yang berhasil ditarik dari reruntuhan bangunan dalam keadaan selamat. Di antara korban selamat, terdapat dua anggota kepolisian wilayah setempat, Port Authority, yakni John McLoughllin dan William Jimeno. Keduanya berhasil diselamatkan setelah terjebak dalam reruntuhan bangunan masing-masing selama 13 jam dan 21 jam. Kisah keduanya kemudian difilmkan oleh sutradara Oliver Stone dalam film berjudul 'World Trade Center' yang dirilis tahun 2006.

Kisah selamat lainnya berasal dari seorang insinyur bangunan bernama Pasquale Buzzelli dan sekretarisnya, Genelle Guzman. Keduanya yang berkantor di lantai 64 Menara Utara WTC, terjebak dalam reruntuhan selama berjam-jam. Buzzelli mengalami patah kaki dan gegar otak ini sempat pingsan selama 3 jam sebelum akhirnya diselamatkan petugas penyelamat. Sedangkan Guzman baru berhasil diselamatkan setelah terjebak di bawah reruntuhan selama lebih dari 27 jam.


Korban Tewas Berasal dari 80 Negara
 
Total korban tewas dalam tragedi 9/11 ini nyaris mencapai 3.000 orang. Korban tewas tersebut tidak hanya berasal dari Amerika Serikat saja, namun juga negara lain. Korban tewas berasal dari lebih 80 negara, antara lain Jepang, Irlandia, Inggris, Australia, Selandia Baru, Swiss, India, Meksiko, Brasil, Afrika Selatan, Kanada, termasuk Indonesia. Namun warga asing yang paling banyak menjadi korban berasal dari Inggris, di mana dari total 372 warga asing yang tewas, sekitar 67 orang di antaranya berkewarganegaraan Inggris.


Kebakaran Baru Bisa Dipadamkan 99 Hari Kemudian
 
Dua pesawat yang menabrakkan diri ke Menara Kembar WTC memicu kebakaran hebat pada kedua gedung yang pernah tercatat sebagai gedung tertinggi di dunia ini. Bahkan kebakaran ini baru bisa benar-benar dipadamkan sekitar 99 hari setelah kejadian. Selama itu, petugas pemadam terus berusaha memadamkan bara api yang tersembunyi di balik reruntuhan gedung bertingkat tersebut.

Api kebakaran pertama muncul setelah pesawat pertama menabrak Menara Utara WTC pada pukul 08.46 waktu setempat, 11 September 2001 silam. Petugas pemadam menyatakan api benar-benar padam pada 19 Desember 2001.


Bukan Kebakaran Penyebab Utama Menara Kembar Rubuh
 
Awalnya muncul klaim bahwa penyebab rubuhnya menara kembar WTC adalah karena kebakaran yang melanda kedua gedung tersebut. Klaim tersebut dinyatakan tidak benar, karena api yang membakar gedung WTC tidak mampu melelehkan baja yang menjadi kerangka gedung tersebut.

Rubuhnya menara kembar tersebut sebenarnya dilakukan dengan sengaja, yakni dengan menggunakan peledak yang disetting dengan timer. Peledakan menara kembar dilakukan secara vertikal oleh petugas pemadam agar tidak berdampak pada gedung-gedung pencakar langit yang ada di sekelilingnya.


Bukan 2, Melainkan 3 Menara WTC yang Rubuh dalam Tragedi 9/11
 
Selama ini diketahui bahwa Menara Kembar WTC rubuh total dalam tragedis 9/11 ini. Namun ternyata ada satu gedung lagi yang ikut rubuh pada sore hari setelah kejadian. Menara WTC 7 yang memiliki 47 lantai dan tercatat sebagai salah satu bangunan terbesar di kawasan Manhattan, rubuh akibat serangan teroris tersebut.

Namun rubuhnya menara ini tidak begitu terekspos oleh media massa karena gedung ini bukan rubuh karena ditabrak pesawat. Diyakini bahwa menara WTC 7 rubuh karena dipicu 'kerusakan rembetan' dari rubuhnya Menara Kembar WTC.

"Kehancuran total bangunan pencakar langit ketiga terjadi pada 11 September 2001 sore hari, seolah-oleh dianggap bukan sebagai peristiwa penting... sebagian besar orang memang tidak pernah melihat rubuhnya menara WTC 7 ini.. Sangat mustahil untuk menemuki bukti virtual yang menunjukkan atau menyebutkan rubuhnya menara WTC 7 dalam surat kabar, majalah ataupun laporan televisi setelah 11 September," demikian laporan Komisi 9/11.


Besi & Baja Sisa Rongsokan Gedung WTC Dijual
 
Tidak hanya memakan banyak korban tewas, tragedi 9/11 ini juga menyisakan sekitar 185.101 ton besi rongsokan bekas Menara Kembar WTC yang rubuh. Ke mana perginya besi-besi ini? Ternyata didaur ulang tanpa dilakukan pemeriksaan untuk mencari alat bukti. Besi-besi ini dilelehkan kemudian dikirimkan ke China dan India menggunakan kapal. Sebuah perusahaan China, Baosteel memberi 50 ton besi sisa gedung WTC ini seharga US$ 120 per ton. Sedangkan sisanya dilaporkan digunakan untuk melengkapi sejumlah monumen 9/11 di 50 negara bagian AS.

Tindakan pemerintah setempat ini sempat menuai kemarahan warga dan dinilai sebagai bentuk kejahatan federal. Menanggapi hal ini, Walikota New York City Michael Bloomberg memiliki pendapat sendiri.

"Jika Anda ingin melihat lagi metode dan desain bangunan tersebut, pada zaman ini bisa dilakukan dengan komputer. Dengan melihat dan mengamati potongan-potongan besi saja tidak bisa memberitahu Anda apapun," tutur Bloomberg.


Satu Perusahaan Besar Kehilangan 2/3 Karyawannya
 
Menara Kembar WTC merupakan pusat perkantoran dan bisnis yang ramai di kawasan Manhattan, New York, AS. Sebagian besar korban tewas dalam insiden ini merupakan orang-orang yang berkantor di gedung WTC tersebut. Salah satunya sebuah perusahaan jasa keuangan holobal bernama Cantor Fitzgerald.

Kantor pusat perusahaan ini terletak di lantai 101 hingga 105 pada salah satu menara WTC. Tragis, tragedi 9/11 ini menewaskan 658 karyawan Cantor Fitzgerald, dari total 960 karyawan yang mereka miliki.

Hal ini sempat memberi dampak buruk pada dunia bisnis di New York. Namun untungnya, mereka berhasil bangkit setelah 10 tahun kemudian.

"Kita bisa saja menutup perusahaan ini dan menghadiri pemakaman rekan-rekan kita, atau kita bisa bekerja lebih keras dari sebelumnya untuk membantu keluarga-keluarga mereka," ujar CEO Cantor Fitzgeald, Howard Lutnick, saat itu menyemangati para anak buahnya.

Setelah 10 tahun, Cantor Fitzgerald akhirnya mampu menyalurkan dana sebesar USD 180 juta untuk keluarga korban demi memenuhi janji atas biaya layanan kesehatan para karyawannya yang menjadi korban tragedi 9/11.



(sumber: detik.com)




Read More - 7 Fakta Mengenai Tragedi 11 September

Monday, May 21, 2012

Jenazah Juru Kamera TransTV Masih Bisa Dikenali

Keluarga Aditya Sukardi di Malang (Foto: Okezone/Hari Istiawan)
MALANG - Ayah Aditya Sukardi hari ini berangkat ke Jakarta untuk memastikan jenazah anaknya di RS Polri Kramat Jati. Aditya merupakan juru kamera TransTV yang menjadi korban kecelakaan Sukhoi Superjet (SSJ) 100 di Gunung Salak.

Wahyono Suprapto, ayah korban, Jumat (18/5/2012) pagi tadi sudah berkomunikasi dengan tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri untuk proses identifikasi jenazah. Informasi yang diterima keluarga, jasad Aditya masih bisa dikenali. Wahyono akan didampingi kakak Aditya berangkat ke Jakarta.

Wahyono mengaku pasrah dengan apa pun kondisi anaknya. Emosi keluarga semakin tidak menentu, antara menerima kabar baik, berupaya ikhlas, serta menunggu kepastian.

Berbagai persiapan dilakukan keluarga untuk menyambut jenazah Aditya, termasuk lokasi pemakaman.

Pihak keluarga berharap jika identitas sudah jelas, jenazah Adit bisa segera dipulangkan tanpa menunggu semua proses identifikasi selesai.
(Sindo TV / Deny Irwansyah / ton)
Read More - Jenazah Juru Kamera TransTV Masih Bisa Dikenali

Saturday, May 12, 2012

Sebelum Jatuh, Sukhoi Sempat Berputar-putar Minta Turun

Sukhoi Superjet 100 (Foto:Wikipedia)
 BOGOR - Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Harry Bakti, menegaskan, saat kejadian jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet-100, pesawat hilang komunikasi di ketinggian 6.000.

Pesawat itu sebelumnya berada di ketinggian 10.000 dan meminta izin untuk turun ke ketingggian 6.000. Air Traffic Control (ATC) pun memberikan izin untuk melakukan penurunan ketinggian.

"Sudah dapat izin itu menurut laporan ATC, dia bilang sudah beri izin untuk turun ke 6.000 dan waktu diradar juga posisinya sudah 6.000," katanya di helipad darurat, Desa Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (12/5/2012).

Atas permintaan itu lanjutnya, diberikanlah izin untuk menurunkan ketinggian. Bakti juga menjelasan, posisi pesawat saat itu sudah berada di training area Landasan Udara Atang Sandjaja.

"Karena itu berada di area training area Lanud Atang Sanjaya, sebetulnya pesawat pun bisa landing di Lanud Atang, boleh turun. Jadi tidak ada masalah secara teknis operasional, secara komunikasi dan teknis operasional tidak bermasalah," katanya.

Dia menjelaskan, sebelum izin ke Lanud Atang Sanjaya atau ketika menuju ke Lanud, pesawat tersebut meminta turun di sekitar Lanud. "Dan dia memutar-mutar di sana," jelas Bakti.

Bakti menjelaskan saat memutar-mutar tersebut komunikasi kemudian hilang. "Dia hilangnya di sana dan tidak naik lagi," katanya.

Akhirnya Sukhoi Superjet 100 RA 36801 yang sebelumnya berangkat dari Bandar Udara Halim Perdana Kusuma pada Rabu (9/5/2012) sekira pukul 14.00 namun kontak tersebut kontak 14.33 WIB.




(Sumber)
Read More - Sebelum Jatuh, Sukhoi Sempat Berputar-putar Minta Turun